Baca Who Made Me A Princess Chapter 2

CHAPTER 1 PART 2

“Uyaaa.”

Aku merinding saat mendengar rumor tentang manusia yang dikenal sebagai ‘Ayah’ ini.

Dari yang kudengar dari para pelayan, aku sudah tahu kalau dia ini seorang psikopat. Aku jadi tegang setiap kali pelayan masuk untuk membersihkan kamarku bergosip tentang ‘dia’.

Tempat yang kutinggali sekarang ialah Istana Ruby, tempat tinggal para selir Raja.Yang bisa juga dikatakan harem Raja.

Meski demikian, suatu hari, Claude membunuh semua orang di Istana Ruby ini.
Alasannya masih tidak diketahui, tapi aku yakin pasti ada seseuatu yang menganggu Raja dan membuatnya membunuh mereka semua bangkan dengan tangannya sendiri.

Suatu hari ibuku, Diana, di undang ke perjamuan kerajaan sebagai penari. Dan entah bagaimana ia menarik perhatian kaisar, lalu melahirkanku.

Namun, Diana, tidak seperti masyarakat biasa lainnya, ia meninggal setelah melahirkan, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Permaisuri secara resmi dan hanya meninggalkan aku yang baru lahir.

Setelah itu, sang Kaisar menyembunyikan dirinya dan menjauhkanku dari pandangannya. Sejak itu, para pelayan dari Istana Ruby lah yang merawatku.

Hhm, kalau di ingat-ingat lagi, tempat ini  benar-benar sial. Oke, kesampingkan permasalahan itu, apa sih yang di lakukan Kaisar brengs*k sialan itu sampai tega meninggalkan anaknya sendiri?!

Bagaimanapun, akulah yang sekarang tinggal dimana pembantaian itu terjadi.

Ahh.. Sejak mendengarnya, aku jadi sering bermimpi buruk. Meninggalkan bayi sepertiku berbaring di kamar ini… ini benar-benar kebiasaan yang buruk, sangat buruk.

Tapi aku lebih takut pada Kaisar yang bahkan kuketahui wajahnya itu daripada hal-hal mengerikan yang terjadi di dalam Istana ini. Seperti di masa lalu, bagaimana jika ia menggila lagi? Bagaimana jika ia mendadak muncul entah darimana lalu membunuh semua orang sambil berkata, ‘mati kau!’ termasuk aku?!! Luar biasa. Masa depan luar biasa yang aku miliki sejak dilahirkan sebagai seorang Putri.

***

“Uwaaa”.

Ah benar, sudahkah aku menyebutkan namaku sebelumnya? Dalam kehidupanku sebelumnya, kepala panti asuhan memberinkanku nama tanpa rasa peduli, tapi dalam kehidupan ini, ibuku membuatnya sendiri.

‘Athanasia’, itulah namaku.  Luar biasa lagi nama itu memiliki arti ‘Abadi’.

Aku mendengarnya dari Lily tadi malam. Tapi nama itu terkesan terlalu mewah untuk seorang Putri yang terlantar.

Tentu saja, itu adalah nama yang sama dengan Putri yang punya masa depan suram dari novel romansa itu.

Aku penasaran, kalau manusia benama Ibu ini sengaja menamakanku, ‘Athanasia’, agar aku berumur panjang dan hidup bahagia dibawah naungan Kaisar buas itu.

Huft. Tapi hal itu membuatku merasa takut karena karakter Athanasia dalam novel romansa itu mengalami nasib kematian yang mengerikan di usianya yang ke 18 tahun.
Terlebih lagi, dari segala penyebab kematian, mengapa kematiannya harus di tangan ayahnya sendiri, sang Kaisar?! Sebelumnya tidak seperti ini, tapi kenapa novel romansa itu terus bermunculan di kepalaku setelah aku berubah menjadi bayi?

“Euuu.. euu”.

Jadi begitulah,  setiap aku membuka mataku, aku selalu ketakutan membayangkan manusia yang diceritakan sebagai ‘Ayah’ itu suatu saat akan mengunjungiku.

Klik! (pintu terbuka).

Argh. Kupikir aku akan mati saat tadi. Beruntung karena orang-orang yang datang ke ruangan ini tidak lain adalah pelayan Istana Ruby. Para pelayan menatapku sembari berbisik satu sama lain dengan keluhan yang terlihat di mata mereka.

“Apa ini, dia tidak tidur.”

“Apa kita harus disini? Dia kan tidak bisa pergi kemana-mana.”

“Kau tahu Lilian kan? Dia itu sangat menyebalkan.”

Aduh, mereka mulai lagi. Berbisik dan mengeluh sambil menatapku. Mari kita tidak melakukan ini satu sama lain, kita semua sama-sama terjebak di Istana Ruby kan kakak-kakak?

“Anggap saja kita sekalian istirahat.”

“Bukankah dia akan menangis lagi?”

“Cepat ayunkan tempat tidur bayinya supaya dia cepat tidur.”

Orang-orang yang mendengarnya bisa-bisa berpikir aku ini gampang menangis. Kalau ada bayi lain yang jarang menangis sepertiku, tunjukkan saja kemari!

Lily mengkhawatirkanku karena tidak sering menangis dan hanya banyak bergumam, tapi kakak-kakak pelayan itu selalu berbisik-bisik seperti ini setiap kali mereka datang untuk menemuiku.


Aku jadi sangat yakin kalau perlakuan mereka begini padaku karena aku sama sekali tidak ada penting-pentingnya nya bagi Kaisar.

Apa aku jadi merasa sedih karena hal itu? Sama sekali tidak! Malahan itulah keinginanku, hidup  sebagai Putri yang tidak penting seperti sekarang. Hanya dengan kabur membawa pajangan yang ada di kamar ini saja aku bisa hidup senang seumur hidup.  Jadi, tolong abaikan saja aku. Kalau perlu lupakan aku. Aku tidak butuh semua perhatian kok!

“Meski tidak mendapat perhatian Kaisar, tetap saja nasib Putri itu enak.”
Memang benar. Walaupun  aku hanya diberi susu hangat dalam botol, aku juga mendapatkan makan tiga kali sehari. Tempat tidur di sini juga sangat nyaman, dan juga kamarku di penuhi dengan emas.

Jika ini berlanjut sampai keberadaanku tertangkap oleh Kaisar, aku tidak akan khawatir kekurangan makanan. Meski terus berulang, ini tidak akan menjadi kehidupan yang menyengsarakan.

Aku jadi ada rencana. Kalau aku bertambah besar nanti, aku akan menemukan kesempatan melarikan diri setelah mencuri beberapa emas.

Jadi untuk sementara waktu aku akan berfokus pada pertumbuhan diri. Kalau persoalannya itu, makan dan tidur yang cukup dan berolahraga  seperti yang disebutkan Lily sangat penting.

“Hiyaa.. Hiyaa!” aku menendang udara untuk menguatkan kakiku.

“Dia memang beruntung, tapi dia masih terlalu lemah bahkan dia bisa mati hanya dengan jentikan jari.”

“Benar. Kenapa dari semua tempat kita diperkerjakan disini? Oh ya, apa kau sudah dengar? Cerita tentang hantu di dapur Istana Ruby. Dia muncup tiap malam.”

“Merinding. Kita tidak tahu kapan kita akan bernasib sama seperti itu juga.”

Berisik-berbisik.

Mereka terus berbisik sambil menatapku dari waktu ke waktu.

Bukan berarti aku tidak mengerti perasaan mereka. Malahan aku yang putri di Kerajaan ini juga merasa takut tinggal dimana kau bisa mati kapan pun. Jika harta karunku terkumpul, aku akan segera keluar dari tempat yang mengerikan ini!
Aku pun  menguatkan tekadku sekali lagi.

***

“Eh.. hee.. he..”

Ah aku sangat senang. Lily tersenyum puas saat melihatku tersenyum ceria pada benda di depanku.

“Apa kau sangat menyukainya?”

“Auu uaa. Au au.” (aku suka, aku suka).

Oh ya, oh ya. Baik! Emasku! Betapa cantiknya!

Ketika aku memandangi bola emas yang berharga, ekspresiku yang terlalu senang sampai-sampai membuat wajahku tampak imut dan menawan. Yah, aku yakin kok aku menawan. Terbukti saat aku tertawa dan menggosokkan pipiku ke bola emas, Lily pasti juga senang karena dia memberikan ciuman di pipiku.

Waktu berlalu dan sekarang merangkak di karpet tidak sesulit sebelumnya. Kugunakan kesempatan setiap merangkak untuk melihat permata dan emas dengan mata yang berbinar.

Sejauh yang kulihat, batu-batu permata tertanam pada dinding, dan bahkan dindingnya sendiri terbuat dari emas dan pemarta asli. Tunggu, itu beneran emas dan permata kan?

Selain itu, gara-gara sering melihatku berusaha meraih benda-benda itu, Lily pasti menyimpulkan kalau aku menyukai benda yang berkilauan.

Semenjak itu, Lily membawakanku mainan lain yang terbuat dari emas dan permata  dan hal itu mataku semakin melebar dan bersinar karena senang. Padahal kupikir dulunya Istana Ruby kekurangan dana dan tidak peduli sama sekali tentang mainanku.

“Saya akan membawakan mainan baru nanti kalau anda sudah bosan dengan yang lama.”

Tiba-tiba saja, wajah Lily semakin cantik saat mengatakan itu. Oh, Lily kau segalanya bagiku!

“Gya. Uwaa.”

Aku bermain bola di karpet. Lily pasti membawakan itu agar bisa kugelindingkan di lantai karena aku masih merangkak.

Akan kusimpan baik dengan baik biar bisa kubawa kabur nanti. Ha..ha..ha. (Ahh, aku ngiler).

Istana Ruby terasa sangat damai. Awalnya aku merasa tidak nyaman, tetapi setelah berbulan-bulan berlalu, aku menyadari ayahku si Kaisar sialan itu tetap duduk tenang dan menjauh dari pandanganku. Ini cukup membuktikan bahwa ada kemungkinan dia melupakan keberadaanku.

Dan tentu saja, orang-orang yang selama ini takut sang Kaisar datang untuk membunuh mereka semua pun sudah mulai tenang. Meski begitu rumor tentang hantu di dapur tetap bermunculan.

Aku makan, merenggangkan tubuh, dan tidur degan nyeyak sehingga aku tumbuh dengan cepat dan sehat. Berkat Lily, aku tidak pernah sekalipun menderita penyakit selama masa pertumbuhanku.

Aku ingin segera bisa berjalan. Karena saat aku sudah bisa berjalan, aku bisa mulai mengumpulkan benda-benda berharga.

Bicara tentang harta karun, entah ini hanya perasaanku atau apa, tapi kelihatannya hiasan dekorasi di kamarku hilang satu per satu. Apa Lily mengira aku akan menjatuhkan atau memecahkannya sehingga ia membawa benda-benda itu pergi? Wahh, tidaaak! Barang berhargaku. Serahkan emas berhargaku!

“Hwaaa!”

Aku berhenti bermain dengan bolanya, dan mulai menangis memanggil Lily. Pantatku merasa lembab. Hiks.. memalukan, tapi aku harus mengganti popokku.

***

“Penyihir dari menara memiliki sihir terkuat di antara semua penyihir yang pernah ada.”
Saat ini, aku dan Lily sedang membaca buku cerita bergambar, aku memperhatikan dalam pangkuannya yang nyaman. Mereka bilang ini buku cerita, tapi sebenarnya ini adalah buku sejarah kerajaan ini yang di persingkat dalam ukuran buku cerita.
Aku yang lumayan penasaran tentang tempat ini, mendengar dengan tenang ceritanya. Karena sebenarnya aku bukan bayi, jadi aku mengerti jalan ceritanya. Berbeda jika bayi biasa yang diceritakan, mereka mungkin tidak akan mengerti alur yang rumit.

Hhm, sepertinya Lily benar-benar peduli dengan pendidikan anak.

Buku yang dibacakan Lily sekarang sangat mendebarkan, sehingga aku memperhatikan sepenuhnya dengan mata berbinar. Tapi yang membuatku paling tertarik adalah lembaran selanjutnya, yaitu keberadaan penyihir.

Dikatakan bahwa penyihir ada di dunia in! Aku selalu menganggap dunia ini berada di luar negeri yang tidak normal, tapi aku benar-benar tidak berpikir kalau ini adalah dunia lain!

“Nyih…!” (ini)

Saat Lily hendak membalik halaman, dia menghentikan tangannya dengan menunjuk pada sebuah ilustrasi. Dalam gambar itu, ada sebuah menara berdiri yang ditutupi dengan tanaman runcing berduri kusut.

“Hanya dengan kekuatan penyikir menara, tentu menghapus suatu Negara dari peta bukan hal yang sulit bagi mereka.”

Aku sangat senang mendengar tentang sihir. Aku ingin melihatnya juga! Aku ingin melihat keajaiban!

“Oleh karena itu, dikatakan bahwa mereka membekukan hati mereka sendiri.”

Ah, saat itulah aku merasa buku sejarah membosankan ini berubah menjadi buku cerita sungguhan. Apalagi tentang penyihir dari menara hitam yang diceritakan Lily, sangat menarik.

“Jika kemampuan ini bukanlah digunakan untuk hasrat semata dan alasan yang tidak rasional, maka kekuatan tersebut dapat di gunakan untuk jalan yang barik daripada yang buruk.”

“Waaa..”

“Ada kisah dalam catatan Obelia dan penyihir menara. Konon, alasan mengapa Dinasti Obela saat ini (penguasa) membangun kembali kekaisaran yang telah menjadi reruntuhan, adalah karena penyihir menara telah menghancurkan Obelia terdahulu.”
Mungkin itu teralu berlebihan, tapi cerita seru tetap saja seru.

Dengan hati yang berdegup kencang, aku mendengarkan cerita-cerita lain yang dibacakan Lily untukku. Sampai sesuatu menarik minatku.

“Apwah Nyih?” (Apa ini)

Tunggu, apa… ini?

Jujur, aku sudah menstralate 5 chapter. Mungkin aku akan mempostingnya nanti satu per satu. Hehe
Beritahu aku jika ada yang salah dalam penulisan ya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOVEL SUDDENLY I BECAME A PRINCESS - BAHASA INDONEISA

Baca Who Made Me A Princess - Chapter 1 Part 1

Why Are You Doing This, Duke? Prolog Part 3