Why Are You Doing This, Duke? Prolog Part 3
PROLOG PART 3
Suara rendah dan lembut Duke seperti sebuah halusinasi.
Erin mengadahkan kepalanya karena merasa salah dengar. Walaupun sulit
dipercaya, Duke mengulurkan tangannya dengan sopan seperti memohon pada seorang
Lady.
Tanpa disadari, Erin yang sangat terkejut melihat ke
sekelilingnya. Para prajurit yang berwajah serius, membuka mulutnya karena
kaget. Bukan hanya Erin yang terkejut.
Tindakan Duke yang tidak terduga, sama mengerikannya
seperti pedang yang di todongkannya. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa
takut. Begitu Erin menahan rasa takut dan menatap Duke, pria itu tersenyum,
memamerkan giginya. Wajah pria itu terlihat sangat tampan ketika menunjukkan
senyumnya yang memesona. Tapi, di mata gadis yang ketakutan itu, Duke hanya
terlihat seperti orang gila.
Ke, kenapa Duke
se, seperti ini? Apa Duke sudah gila?
Sesaat Erin curiga. Lalu Duke berbicara dengan sopan dan
lembut.
“Tolong maafkan ketidaksopanan saya padamu yang cantik
ini.”
“Yang Mulia!!”
Meskipun para bawahannya berseru dengan suara terkejut,
Duke pura-pura tidak mendengar mereka. Malah, seolah merasa khawatir, ia
mendekat kea rah Erin dan berbicara padanya. Wajah Duke terlihat cerah,
sampai-sampai matanya ikut tersenyum pada gadis itu.
“Akhirnya aku bertemu dengan takdir yang selama ini
kutunggu.”
Kesenduan terasa di suara Duke yang sangat rendah dan
parau. Para bawahan yang mencoba mencegah Duke mengatakan kalimat tadi, membeku
seperti batu dan seisi aula hening seperti tertutup salku tebal.
Erin merinding melihat sorot mata Duke yang sangat
berbinar di matanya yang tersenyum. Laki-laki itu tulus. Dia adalah laki-laki
yang sampai beberapa saat lalu ingin memenggal kepalaku seperti kepala lobak.
Tapi bisa-bisanya dalam sekejap lak-laki itu bersikap seperti sedang jatuh
cinta? Ini seperti tidak nyata. Atau ini adalah sihir?
Sihir? Apa
lingkaran sihir membuat Duke seperti ini…?
Sesaat, firasat tidak masuk akal melintas di kepala Erin.
Cahaya sihir memang menusuk Duke. Sikap Duke juga berubah setelahnya. Gadis itu
duduk di tengah-tengah lingkaran sihir dan melihatnya dengan kedua matanya
sendiri. Iya. Hal ini mungkin saja terjadi jika itu adalah sihir.
Erin teringat keinginannya sebelum lingkaran sihir bekerja.
Dia ingin hidup. Erin memohon untuk hal-hal yang ingin
dilakukannya jika dia hidup. Gaun yang cantik, cinta dari seorang pria.
Pernikahan dan cinta. Hingga anak hasil buah cintanya.
Jika laki-laki
ini bukan tiba-tiba menjadi gila… apakah harapanku terkabul?
“Menikahlah dengan saya, wahai pemilik hatiku.”
Duke berbicara dengan serius membuktikan dugaan Erin.
Lalu, ketika Duke perlahan berlutut di hadapan gadis yang tidak beda dari
tanaman mati, para bawahannya terkesiap.
Astaga. Tubuh Erin lemas dan ia terkapar di lantai.
Jika harapannya terkabul, dan oleh sebab itu Duke terkena
sihir, maka ini sangat praktis.
Karena laki-laki di hadapannya ini bisa mengabulkan
permintaannya yang panjang sekaligus. Duke bisa menyelamatkanya, mencintainya,
dan bahkan menikahinya.
Apa harapanku benar-benar terkabul? Melalui laki-laki
ini?
Erin teringat cahaya putih yang menusuk jantung Duke dan
menatap laki-laki itu dengan tercengang.
Duke yang tadinya lebih dingin daripada angin utara di
tengah musim dingin, menatap Erin antusias dengan mata berbinar jatuh cinta
sambil berlutut. Ini adalah arti lain dari ketakutan.
Erin bimbang dan menarik dirinya, tapi Duke malah semakin
mendekat kepadanya.
“Wahai takdirku, cepat genggamlah tanganku. Tolong
terimalah hatiku.”
Duke yang jatuh cinta memanggil Erin dengan sebutan
takdir, pemilik hati, dan kata-kata yang tidak masuk akal lainnya, karena belum
tahu nama gadis itu. Seorang laki-laki muda di belakang Duke, yang tadi merusak
pintu dan memanggil Erin, menganga sehingga rahangnya hampir lepas. Padahal di
awal, Duke memanggilnya dengan sebutan ‘anak Count Samed’.
Erin menatap tangan laki-laki itu dan merasa ragu. Tapi
keraguannya hanya sesaat. Ia bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup.
Gadis itu mengulurkan tangannya yang gemetar, menutuP matanya,
dan meraih tangan Duke yang besar dan kuat, mengenggam erat dengan lembut
tangan Erin yang basah karena keringat.
Wajah Duke yang tersenyum senang, sangat menyilaukan.
Layaknya cahaya lingkaran sihir.

Komentar
Posting Komentar