Why Are You Doing This, Duke? Prolog Part 1

PROLOG PART 1



“Erin Samed!”

Pintu terbuka bersamaan dengan suara teriakan yang keras. Erin, yang duduk di tempat tidur sambil gemetar merapatkan kedua tangannya untuk berdoa, dia diseret ke aula seperti barang oleh ksatria.

Erin melihat ke sekeliling karena ketakutakan meskipun dia tahu tidak akan ada yang menolongnya. Namun, tidak peduli bagaimana dia melihat melihat sekeliling para ksatria dan prajurit yang berjalan dengan kaki yang dipenuhi tanah, tidak ada satupun  wajah yang dikenaLinya.

Ketika keluarga Erin mengetahui bahwa pasukan Duke akan datang, mereka meninggalkan Erin di istana seperti orang-orangan sawah dan melarikan diri.

Erin hanyalah anak di luar nikah Count dan satu-satunya yang ia terima dalam keluarga ini adalah siksaan dan pelecehan seumur hidupnya karena ia telah mewarisi darah gipsi dari ibunya. Bahkan bagi para pelayan perempuan pun, Erin adalah orang yang tidak berharga yang hina. Pasangan suami - istri Count pun memperlakukannya seperti serangga dan menganiayanya. Bahkan mereka tidak ragu untuk memojokkan Erin dan menggunakannya sebagai alat untuk melindungi keluarga.

"Ketahuilah! Ini adalah kehormatan bagimu karena bisa membantu keluarga dengan kontribusi kecilmu!”

Erin juga ingin ikut, tapi keluarganya bilang mereka perlu umpan. Lalu dengan menyedihkan, Erin di tinggalkan. Erin mencoba melarikan diri tapi sudah terlambat, tapi anehnya, Erin teringat dengan kata-kata ibunya dan itu menahan dirinya untuk tidak pergi.

"Ketika sabit Dewa Kematian mengincar nyawamu, kamu harus menatap mata Dewa Kematian dengan berani".

Terlebih lagi, Erin sudah terlambat untuk melarikan diri. Erin hanya bisa n mempersiapkan dirinya untuk menghadapi saat terakhir dalam hidupnya dengan gemetar. Erin mengikat rambutnya dengan rapi, dan memakai baju bagus di antara baju-baju using miliknya. Tapi, meskipun sudah siap, Erin tetap merasa sangat menyedihkan dihadapkan pada kematian yang tiba-tiba menghampirinya.

Di tengah aula, Erin berlutut di hadapan Duke yang berdiri menjulang seperti patung. Rambut perak yang tidak meiliki kehangatan bagaikan salju kelabu dan mata biru seperti laut yang dingin, di tambah jubah hitam yang dipakai Duke, membuat Duke terlihat seperti Dewa Kematian di tengah musim dingin.

Di mata gadis yang gemetar ketakutan itu, selain pedang ksatria yang bersimbah darah, terlihat juga tetesan darah dari sesuatu yang dibawa oleh prajurit. Itu adalah kepala anggota keluarga Erin yang melarikan diri. Erin hampir mati karena serangan jantung bahkan sebelum kepalanya di penggal. Ia terkesiap dan mengedarkan pandangannya, lalu menemukan tumpukan mayat para pelayan. Napasya berhenti karena ketkutan.

Erin yang tidak sanggup lagi melihatnya, menundukkan kepalanya dan menatap rok tua yang dipakainya.

Apa aku akan mati seperti ini?

Prajurit yang membawa Erin mundur ke belakang dan suasana aula menjadi sangat sunyi. Mereka memasang ekspresi serius seperti sedang melakukan upacara dan berbaris dengan rapi. Mereka terlihat seperti sudah terbiasa dengan hal semacam ini.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Duke Rowan Peruka dari Kekaisaran Mercia menyapu bersih medan perang. Hal itu dilakukan atas perintah Kaisar untuk menaklukkan Negara-negara yang bersengkokol menentang kekaisaran.

Dia dikenal sebagai orang yang sangat kejam yang bahkan tidak ragu membunuh bayi yang baru lahir, jika itu adalah bangsawan dari Negara musuh. Favin tanah air Erin dan keluarga Count Samed yang tinggal di perbatasan wilayah adalah penghambat kecil terakhir dari perjalanan Duke yang lancer.

Bagaimana aku harus menghadapi pria mengerikan ini?

Mata biru Duke yang menakutkan melihatnya seperti serangga. Pesan ibu Erin untuk menatap Dewa Kematian dengan berani, sama sekali tidak berguna.

Erin yang berlutut di hadapannya sebagai seorang pendosa, mulai gemetar hebat. Ia menggigit bibirnya dan mencoba untuk menahan tubuhnya yang gemetar, tapi secara alami tubuhnya tidak bisa berbohong karena aura jahat yang terpancar dari pria itu.

Duke memandang Erin dan membuka mulutnya dengan malas seolah itu hal yang menyebalkan.

“Hei, anak Count Samed. Karena kamu tidak melarikan diri seperti seorang pengecut karena melindungi harga diri keluargamu, aku akan membunuhmu  dengan tanganku sendiri.”

Harga diri apa? Erin bukannya tidak melarikan diri, tapi dia di buang. Selain itu, Erin juga merasa lebih baik jika dibunuh oleh orang lain. Duke yang tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun pada Erin, terlihat sangat menakutkan.

Sesaat emosi Erin meluap. Duke mengeluarkan pedangnya dan rin menggigit bibirnya kuat-kuat jarena merasa takut berhadapan dengan kematian.

Darah di pedang Duke muncrat ke udara. Erin ketakutan. Rasa takut akan kematian, sangat dingin dan mengerikan sampai membuatnya merinding. Gadis itu menggigit bibirnya hinga robek. Darahnya menetes dan membentuk sebuah lingkaran kecil dibawah lututnya seperti kelopak mawar merah. Ia berpikir akan pingsan karena melihat darah itu.

Aku tidak ingin mati sia-sia seperti ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOVEL SUDDENLY I BECAME A PRINCESS - BAHASA INDONEISA

Baca Who Made Me A Princess - Chapter 1 Part 1

Why Are You Doing This, Duke? Prolog Part 3